Rabu, 11 Juli 2012

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


MAKALAH BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
TEORI DAN DINAMIKA BELAJAR


Dosen Pembimbing Roy Wahyuningsih, S. Pd

Disusun Oleh Kelompok 4 :
1.     Zumrotun Nisak Ulaillah                    (102230)
2.     Puji Astutik                                       (102235)
3.     Rosalia Kurnia Hidayati                     (102248)
4.     Arief  Rahmawan                              (102328)

PENDIDIKAN EKONOMI 2010 A
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
STKIP PGRI JOMBANG
2011
KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik, inayahnya serta hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Teori dan Dinamika Belajar dengan tepat waktu.

            Keberhasilan ini tidak mungkin tercapai tanpa adanya dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terimakasih kepada Ibu Roy Wahyuningsih, S.Pd selaku dosen pembimbing mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.

            Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kritik dan saran yang bermanfaat dan membantu akan sangat diperlukan dari berbagai pihak.




                                                                                    Jombang, 10 Oktober 2011


                                                                                    Penulis







ii
DAFTAR ISI

                                                                                                Halaman
HALAMAN JUDUL            ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah .................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................................... 2
C.     Tujuan dan Manfaat ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Teori Belajar ................................................................................. 3
B.     Penerapan Teori Belajar ................................................................................. 7
C.     Pengertian Dinamika Belajar .......................................................................... 9
D.    Penerapan Dinamika Belajar .......................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan ........................................................................................................ 20
B.     Saran .............................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 21









iii
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dunia berkembang begitu pesat. Segala sesuatu yang semula tidak bisa dikerjakan, tiba-tiba bisa dikerjakan oleh orang lain yang bisa mengerjakan hal tersebut. Agar kita tidak tertinggal dan tidak ditinggalkan oleh era yang berubah sangat cepat ini, maka kita harus sadar bahwa pendidikan itu sangat penting. Banyak negara yang mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang sangat sulit. Namun semuanya menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu tugas negara yang sangat penting. Banyaknya kekacauan-kekacauan yang muncul di masyarakat pada bangsa ini diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar yaitu pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai dengan karakteristik yang dimiliki serta didukung oleh lingkungan belajar yang bebas dan kesadaran dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran akan dapat menciptakan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar. Penerapan ini juga tidak terlepas dari adanya faktor teori dan dinamika belajar yang diterapkan sebagai acuan serta pedoman dalam pembelajaran.
Dari uraian di atas, maka dipandang perlu bagi seorang pendidik untuk memahami tentang teori dan dinamika belajar dalam pembelajaran. Agar dapat berjalan optimal seperti yang diharapkan karena pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa.





1
B.     Rumusan Masalah
   Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas maka permasalahan mendasar yang hendak di telaah dalam makalah ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan teori belajar?
2.      Apa saja yang terdapat dalam teori belajar?
3.      Bagaimana penerapan teori belajar?
4.      Apa yang dimaksud dengan dinamika belajar?
5.      Bagaimana menjalankan dan menghadapi dinamika belajar?
6.      Apa saja contoh penerapan dinamika belajar?

C.    Tujuan dan Manfaat
1.      Tujuan Penyusunan Makalah
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk :
a.       Mendeskripsikan teori dan dinamika belajar.
b.      Mengkaji teori dan dinamika belajar.
c.       Menelaah teori dan dinamika belajar.

2.      Manfaat Penyusunan Makalah
Penyusunan makalah ini bermanfaat secara :
a.       Teoretis, untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya dalam memahami teori dan dinamika belajar.
b.      Praktis, bermanfaat bagi :
(1)   Para pendidik agar pendidik tidak salah persepsi tentang teori dan dinamika belajar.
(2)   Mahasiswa agar dapat memahami tentang teori dan dinamika belajar.




2
BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN TEORI BELAJAR
Teori merupakan hasil analisis manusia yang bisa dibuktikan kebenarannya. Suatu teori bersifat tetap dan suatu teori dapat ditinggalkan apabila dijumpai teori baru atau hasil pengembangan dari teori sebelumnya.
Sedangkan belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat akan tetapi belajar lebih luas daripada itu, yakni mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan, kegiatan belajar dapat dihayati (dialami) oleh orang yang sedang belajar dan juga dapat diamati oleh orang lain. Kegiatan belajar yang berupa perilaku kompleks tersebut menimbulkan berbagai teori belajar. Seorang pebelajar atau siswa harus menghayati apa yang di pelajarinya karena erat hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh pembelajar atau guru.
Pengertian belajar menurut para ahli :
  • Suatu aktivitas mental dan psikis dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku pada diri sendiri (Wingkel, 1987).
  • Suatu perilaku yang ditimbulkan dari respon belajar (Skinner).
  • Suatu aktivitas atau pengalaman yang menghasilkan perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang bersifat permanen (Walra, Rochmat, 1999:24).




3
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan teori belajar merupakan proses dimana dalam proses belajar menghasilkan pengajaran yang baik, manajemen yang baik dengan menggunakan teori belajar yang disukai.
Secara garis besar teori belajar dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Pembagian ini didasarkan atas pandangan belajar dalam mengenal manusia yakni :
1. Pandangan yang menyatakan bahwa manusia adalah organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus yang terdapat dalam lingkungan.
Menurut pandangan ini manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol. Caranya adalah dengan mengontrol stimulus stimulus yang ada dalam lingkungannya. Hukum hukum yang berlaku bagi alam pada umumnya berlaku bagi manusia.
2. Pandangan kedua menganggap manusia adalah bebas untuk membuat semua kegiatan.
Macam-macam Teori Belajar :
  1. Teori Belajar Menurut Jerome Bruner
            Teori belajar Bruner (dalam Nur, 1999:8) dikenal dengan teori belajar penemuan. Belajar penemuan merupakan usaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya. Sehingga mendapatkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
            Belajar dengan cara penemuan memiliki kelebihan diantaranya pengetahuan yang diperoleh siswa dapat bertahan lama atau mudah diingat, lebih mudah menerapkan ketika dia berhadapan dengan situasi baru, meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir bebas.


4
  1. Teori Belajar Pieget dan Vygotsky
            Menurut Pieget dan Vigotsky (dalam Nur:1993:3) menyatakan bahwa perubahan kognitif yang terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya di olah melalui suatu proses ketidak seimbangan dalam upaya memahami informasi-informasi baru. Pieget dan Vigotsky juga menekankan kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggota kelompok yang berbeda-beda untuk mengupayakan perubahan konseptual. Ada empat bentuk pengetahuan pada seseorang, yaitu : Pembelajaran sosial, zona perkembangan terdekat, pemagangan kognitif, dan scaffolding.

  1. Theory Knowledge Based Constructivism
            Teori ini menekankan kepada pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar atau yang sering diistilahkan sebagai student centre. (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).
            Pengetahuan yang didapat siswa merupakan hasil dari proses belajar sedikit demi sedikit dari konteks terbatas yang kemudian di konstruksikan sendiri sesuai dengan pemahaman siswa sehingga pemahaman materi diperoleh melalui pengalaman belajar yang bermakna dan berkesan bagi pribadi siswa.

  1. Theory Effor Based Learning/Incremental Theory of Intellegence
                  Teori ini menyatakan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan komitmen untuk belajar. (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).



5
                  Teori Based Learning/Incremental Theory of Intellegence melihat bahwa dalam proses belajar perlu adanya motivasi dari pribadi siswa yang berfungsi untuk mendorong siswa lebih giat dan bekerja keras untuk pencapaian hasil belajar yang lebih baik dan berarti.

  1. Theory Socialization
                  Teori ini menekankan bahwa belajar merupakan proses social yang menentukan tujuan belajar, oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu diperhatikan selama perencanaan pengajaran. (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).
                  Faktor sosial dan budaya yang merupakan cerminan pendekatan paling cepat dan tepat karena melibatkan keseluruhan pihak, baik itu individu (manusia) masyarakat (lingkungan). Oleh karena itu pembelajaran dipandang lebih efektif apabila didalamnya terdapat unsur sosial dan budaya yang dapat menemukan konsep-konsep serta pengalaman langsung tentang apa yang dipelajarinya, melibatkan siswa untuk berinteraksi langsung.

  1. Theory Situated Learning
                  Teori ini berpendapat bahwa pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam fisik tertentu dan konteks sosial (masyarakat, rumah, dan sebagainya) dalam mencapai tujuan belajar. (Departemen Pendidikan Nasional,2004).
                  Konteks sosial yang dimaksudkan dalam pembelajaran berfungsi untuk membentuk kecakapan interpersonal dengan orang lain sehingga pada akhirnya siswa dapat menerapkan pengetahuan yang didapatkannya dengan kehidupan sehari-hari dalam kelompok sosial masyarakat yang lebih nyata.


6
  1. Theory Distributed Learning
            Teori ini menganggap bahwa manusia merupakan bagian terintegrasi dari proses pembelajaran, oleh karenanya harus berbagi pengetahuan dan tugas-tugas. (Departemen Pendidikan Nasional, 2004).
            Antara pendidik dan siswa serta lingkungan merupakan bagian dari satu kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus bekerja sama dalam proses belajar. Kerja sama akan menjadikan pengalaman serta informasi belajar siswa lebih beragam, saling merespons, saling berkomunikasi serta menjadikan kompetensi siswa lebih berkembang karena adanya saling interaksi dan pengtransformasian pengetahuan yang berasal dari berbagai sumber.

B.     PENERAPAN TEORI BELAJAR
Dapat dilakukan melalui beberapa tindakan, yaitu :
  1. Mengajarkan tingkah laku melalui proses yang dimulai dengan penetapan tujuan, kemudian diadakan analisis tugas, langkah-langkah kegiatan murid dan penguatan terhadap respon yang diinginkan.
  2. Melakukan modelling atau imitasi (peniruan) karena tingkah laku manusia lebih banyak dipelajari melalui modelling atau imitasi daripada melalui pengajaran langsung.
  3. Acuan terhadap prosedur-prosedur pengendalian atau perbaikan tingkah laku yang meliputi :
1.      Memperkuat tingkah laku bersaing, misalnya : kerjasama, membaca, dan diskusi.
2.      Adanya perubahan lingkungan yang terjadi, misalnya : jika dalam belajar, murid terganggu oleh suara gaduh di luar kelas, maka guru dapat memberikan ketukan pada jendela agar dapat menghentikan gangguan itu.


7
3.      Adanya perhatian dari guru kepada muridnya atau sebaliknya murid kepada gurunya dalam belajar sehingga tercipta sebuah interaksi.
4.      Penerapan suatu prosedur seperti menyuruh siswa untuk melakukan perbuatan yang berulang-ulang sehingga ia menjadi lelah dan jera. Contoh : Seorang guru yang memergoki muridnya merokok, kemudian guru meminta muridnya untuk menghabiskan rokok satu pak sehingga murid itu akan menjadi bosan.
5.      Pemberian hukuman.
      Hukuman sebaiknya diterapkan di kelas dengan bijaksana agar lebih efektif dalam memberikan suatu hasil yang positif bagi siswa. Hukuman mengatasi tingkah laku yang tidak diinginkan dalam waktu singkat. Hukuman menunjukkan apa yang tidak boleh dilakukan murid, sedangkan reword menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid.

Langkah-langkah guru dalam menganalisis dan memodifikasi perilaku, yaitu :
1.      Perumusan tingkah laku yang tepat.
2.      Pengamatan terhadap tingkah laku siswa yang perlu diubah.
3.      Menciptakan situasi belajar sehingga terjadi tingkah laku yang diinginkan.
4.      Memperkuat tingkah laku yang diinginkan.
5.      Menerapkan pengajaran terprogram dalam prinsip-prinsip ”operant conditioning” bagi belajar manusia di sekolah. Pengajaran ini berlangsung seperti halnya paket pengajaran diri sendiri yang menyajikan suatu topik yang disusun secara cermat untuk dipelajari dan dikerjakan oleh murid. Masing-masing pekerjaan murid diberi ”feed back atau umpan balik.”

Penerapan teori belajar dapat berhasil, jika guru mampu mengetahui tujuan pembelajaran yang akan dicapai.


8
C.    PENGERTIAN DINAMIKA BELAJAR
Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok (group spirit) terus-menerus ada dalam kelompok itu, oleh karena itu, kelompok tersebut bersifat dinamis, artinya setiap saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah. Jadi, dinamika belajar adalah suatu pola dalam belajar yang terus berkembang dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang mengalami proses berkelanjutan atau bisa juga dikatakan sebagai susunan belajar.

D.    PENERAPAN  DINAMIKA BELAJAR
1.      Pembelajaran Dinamis
            Model Belajar Dinamis (BD)
Model Belajar Dinamis mengintegrasikan siswa melalui akses internet sehingga pembelajaran berproses :
§  Kapan saja dan dimana saja.
§  Pemantauan progres (kemajuan) dan diagnosis (analisa) umpan balik secara otomatis.
§  Materi pelajaran bermutu dan selalu terbarukan.
§  Akses mata pelajaran terjangkau siswa secara luas.
§  Memberikan solusi secara interaktif dan integratif.
§  Pelaksanaannya mudah dan memberi dukungan pada belajar siswa secara berkelanjutan.
Keunggulan Belajar Dinamis dapat menghemat waktu, sumber belajar tersedia sepanjang waktu, dan siswa dapat dengan bebas memilih dan menentukan waktu belajarnya, kapan pun sesuai dengan pilihannya.

9
Keuntungan model Belajar Dinamis Berkelompok yang diintegrasikan atau disatukan pada sistem online berpeluang baik dalam membangun komunitas pembelajaran karena :
§  Semua mengontrol semua.
§  Menumbuhkan komitmen kebersamaan dan saling berbagi pengetahuan baru.
§  Fleksibel dalam pertukaran informasi dalam aktivitas belajar.
§  Masing-masing anggota kelompok tetap independen.
§  Dialog dapat dilakukan secara lisan dan tertulis sehingga dapat meningkatkan mutu interaksi (hubungan timbal balik) dan kolaborasi (perpaduan).
§  Membangun tujuan bersama, memecahkan masalah bersama, serta dapat mengembangkan proyek yang fokus atau berpusat pada kepentingan bersama serta lebih menghargai kerja sama.
Sekalipun model Belajar Dinamis maupun Belajar Dinamis Berkelompok memberikan manfaat sebagai strategi pembelajaran, namun pasti pula memiliki keterbatasan, karena sekalipun guru dekat dari sisi teknologi, dalam kenyataannya guru dan siswa bisa tidak berada dalam tempat yang sama, sehingga model ini :
§  Tidak efisien jika dilaksanakan dalam waktu yang pendek.
§  Pendidik yang berada pada pusat kendali sistem mengontrol siswa sangat longgar.
§  Produk belajar yang dapat diwujudkan sangat sulit diprediksi atau diperkirakan.





10
Teknologi yang dapat sekolah gunakan untuk mensejajarkan mutu pembelajaran dengan teknik pembelajaran di negara-negara maju, diantaranya sekolah dapat menggunakan Moodle. Moodle (Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment) adalah paket software atau perangkat lunak yang dirancang untuk mengembangkan kegiatan belajar berbasis internet dan website. Moodle merupakan tempat belajar dinamis. Tantangan yang sekolah perlu harus meningkatkan keterampilan warganya mengelola dan menyajikan informasi. Meningkatkan dan menyediakan waktu membaca dan menulis. Menyajikan materi pembelajaran dalam bentuk dokumen sistematis sehingga layak saji dalam media. Yang tidak kalah penting adalah menjadikan penggunaan teknologi menjadi makanan sehari-hari, dalam pelaksanaan tugas. Seluruh warga sekolah terintegrasi pada internet dengan menggunakan berbagai media, termasuk menggunakan handphone.

  1. Dinamika Siswa dalam Belajar
Siswa yang belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik terhadap lingkungannya. Ranah kognitif (Bloom, dkk.) terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut:
a.       Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.
b.      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari.
c.       Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
d.      Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya, mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.

11
e.       Sintetis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya, kemampuan menyusun suatu program kerja.
f.       Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya, kemampuan menilai hasil karangan.
Keenam jenis perilaku ini bersifat hierarkis, artinya perilaku pengetahuan tergolong terendah, dan perilaku evaluasi tergolong tertinggi. Perilaku yang terendah merupakan perilaku yang “harus” dimiliki terlebih dahulu untuk mempelajari hal yang lebih tinggi.
Dapat  diketahui bahwa siswa yang belajar akan dapat memperbaiki kemampuan internalnya. Dari kemampuan-kemampuan awal para pra-pelajar, meningkat memperoleh kemampuan-kemampuan yang tergolong pada keenam jenis perilaku yang di didikkan di sekolah.
Ranah afektif (Krathwohl dan Bloom, dkk) terdiri dari perilaku-perilaku sebagai berikut:
1.      Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan memperhatikan hal tersebut. Misalnya, kemampuan mengakui adanya perbedaan-perbedaan.
2.      Partisipasi, yang mencakup kerelaan memperhatikan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Misalnya, mematuhi aturan, dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan
3.      Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai, menghargai, dan menentukan sikap. Misalnya, menerima suatu pendapat orang lain.
4.      Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman hidup. Misalnya, menempatkan nilai dalam suatu skala nilai dan dijadikan pedoman bertindak secara bertanggung jawab.



12
5.      Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan membentuk menjadi pola nilai kehidupan pribadi. Misalnya, kemampuan mempertimbangkan dan menunjukkan tindakan yang disiplin.
Kelima jenis perilaku tersebut tampak mengandung tumpang tindih dan juga berisi kemampuan kognitif, kelima jenis perilaku tersebut juga bersifat hierarkis. Perilaku penerimaan merupakan jenis perilaku terendah dan perilaku pembentukan pola hidup merupakan jenis perilaku tertinggi.
Dapat kita ketahui bahwa siswa yang belajar akan memperbaiki kemampuan-kemampuan internalnya yang afektif. Siswa mempelajari kepekaan tentang suatu hal sampai pada penghayatan nilai sehingga menjadi suatu pegangan hidup.
                                  Ranah psikomotor (Simpson) terdiri dari tujuh jenis perilaku, yaitu:
1.       Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milah (mendiskriminasikan) hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
2.      Kesiapan, yang mencakup semua penerapan dari dalam keadaan di mana akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini mencakup jasmani dan rohani. Misalnya, posisi start lomba lari.
3.       Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh, atau gerakan peniruan. Misalnya, membuat lingkaran di atas pola.
4.       Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakan tanpa contoh. Misalnya, melakukan lompat tinggi dengan tepat.


13
5.       Gerakan kompleks, yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau keterampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancar, efisien, dan tepat. Misalnya, bongkar-pasang peralatan secara tepat.
6.       Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan syarat khusus yang berlaku. Misalnya. Ketarampilan bertanding.
7.       Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerak yang baru atas dasar prakasa sendiri. Misalnya, kemampuan membuat tari kreasi baru.
Ketujuh jenis perilaku tersebut mengandung urutan taraf keterampilan yang berangkaian. Kemampuan-kemampuan urutan fase-fase dalam proses belajar motorik. Urutan fase-fase motorik tersebut bersifat hierarkis.
Dapat diketahui bahwa belajar kemampuan-kemampuan psikomotorik, belajar sebagai kemampuan gerak dapat dimiulai dengan kepekaan memilah-milah sampai dengan kreativitas pola gerak baru. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan psikomotorik mencakup kemampuan fisik dan mental. Siswa yang belajar berarti memiliki kemampuan-kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Biggs dan Telfer berpendapat siswa memiliki bermacam-macam motivasi dalam belajar. Macam-macam motivasi tersebut dapat dibedakan menjadi empat golongan, (i) motivasi intrumental, (ii) motivasi sosial, (iii) motivasi berprestasi, dan (iv) motivasi intrinsik.






14
Motivasi instrumental berarti bahwa siswa belajar karena didorong oleh adanya hadiah atau menghindari hukuman. Motivasi sosial berarti bahwa siswa belajar untuk penyelenggaraan tugas, dalam hal ini keterlibatan pada tugas menonjol. Motivasi intrinsik berarti bahwa belajar karena keinginannya sendiri. Motivasi instrumental dan motivasi sosial merupakan kondisi eksternal, sedangkan motivasi berprestasi dan motivasi intrinsik merupakan kondisi internal.
Dari segi siswa, maka bila siswa memiliki motivasi berprestasi dan motivasi intrinsik diduga siswa akan berusaha belajar segiat mungkin. Pada motivasi intrinsik ditemukan sifat perilaku berikut:
1.      Kualitas keterlibatan siswa dalam belajar sangat tinggi, hal ini berarti guru hanya memelihara semangat.
2.      Perasaan dan keterlibatan ranah afektif tinggi, dalam hal ini guna memelihara keterlibatan belajar siswa.
3.      Motivasi intrinsik bersifat memelihara diri sendiri. Dengan ketiga sifat tersebut, berarti guru harus memelihara keterlibatan siswa dalam belajar.
Menurut Biggs dan Telfer, motivasi berprestasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah. Siswa bermotivasi berprestasi lebih tinggi berkeinginan meraih keberhasilan. Siswa tersebut lebih merasa terlibat dalam tugas-tugas, dan tidak menyukai kegagalan. Dalam hal ini guru harus menyalurkan semangat kerja keras siswa. Siswa yang bermotivasi berprestasi rendah umumnya lebih suka menghindarkan diri dari kegagalan. Guru harus mempertinggi motivasi belajar pada siswa tersebut. Terhadap siswa bermotivasi berprestasi rendah, guru diharapkan mampu berkreasi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.


15
  1. Dinamika Guru dalam Kegiatan Pembelajaran
Peran guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah sangatlah relatif tinggi. Peran tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. Adanya gejala membolos sekolah, malas belajar, senda gurau ketika guru menjelaskan bahan ajar sukar misalnya, merupakan ketidak sadaran siswa tentang belajar. Kondisi eksternal yang berpengaruh pada belajar yang penting adalah bahan belajar, suasana belajar, media dan sumber belajar, dan subjek pembelajar itu sendiri.
a. Bahan belajar
   Bahan belajar dapat berwujud benda dan isi pendidikan. Isi pendidikan tersebut dapat berupa pengetahuan, perilaku, nilai, sikap, dan metode pemerolehan. Dapat diketahui bahwa bahan belajar dapat  dijadikan sarana penggiat belajar. Bahan belajar dapat menarik perhatian siswa. Wujud fisik seperti bentuk buku, ukuran buku, gambar buku, bentuk dan huruf dapat dibuat oleh penyusun buku sehingga dapat  menarik perhatian pembaca.
Guru memiliki peranan penting dalam pemilihan bahan belajar, sehingga pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan oleh guru adalah sebagai berikut:
1.      Apakah isi bahan belajar sesuai dengan sasaran belajar? Jika tidak sesuai, adakah bahan pengganti yang sederajat dengan program?
2.      Bagaimana tingkatan kesukarelaan bahan belajar bagi siswa? Jika bahan belajar tergolong sukar, maka guru perlu “membuat mudah” bahan tersebut bagi siswa. Guru dapat menunjuk bahan prasyarat, menambah waktu belajar, dan menggunakan sebagai sumber lain.
3.      Apakah isi bahan belajar menuntut digunakannya strategi belajar mengajar tertentu? Jika siswa “telah menangkap” isi bahan belajar yang baik, apakah guru masih harus menceramahkan bahan tersebut dikelas? Dalam hal ini, guru diharapkan menyesuaikan strategi belajar-mengajar dengan bahan belajar.

16
4.      Apakah evaluasi hasil belajar sesuai dengan bahan belajar tersebut? Kemampuan-kemampuan pada ranah-ranah kognitif, afektif, psikomotorik manakah yang dikandung oleh bahan belajar? Sehingga dapat dievaluasi dengan menggunakan tes memilih benar-salah.
b.      Suasana Belajar
Kondisi gedung sekolah, tata ruang, alat-alat belajar mempunyai pengaruh pada kegiatan belajar. D isamping kondisi fisik tersebut, suasana pergaulan di sekolah juga berpengaruh pada kegiatan belajar. Guru memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana belajar yang menarik bagi siswa. Beberapa pertimbangan penting dalam rangka menciptakan suasana belajar adalah sebagai berikut:
1.      Apakah gedung sekolah dan kampus sekolah membuat kenyamanan belajar? Jika gedung sekolah, ruang kelas, perabot sekolah “tidak memenuhi syarat” untuk belajar, maka guru dapat melakukan usaha perbaikan. Sebagai ilustrasi misalnya menanam tanaman hias di halaman.
2.      Apakah suasana pergaulan antar-orang tua, pegawai-siswa bersifat akrab dan tertib? Setiap guru memilki kwajiban ikut serta manjaga mewujudkan pergaulan yang akrab dan tertib. Peran guru adalah “membuat rukun” semua warga sekolah.
3.      Apakah siswa memiliki ruang belajar di rumah? Jika sebagian siswa tidak memiliki ruang belajar, maka guru dapat menyusun kelompok belajar dan giliran belajar di tempat tertentu.
4.      Apakah siswa memiliki group yang cenderung merusak tertib pergaulan? Jika ada siswa yang menjadi anggota group demikian, guru berperan melakukan pencegahan-pencegahan dengan bekerjasama dengan orang tua dan pihak lain demi terciptanya pergaulan yang tertib.



17
c.       Media dan Sumber Belajar
Sumber belajar dapat ditentukan dengan mudah. Sawah percobaan, kebun bibit, kebun binatang, tempat wisata, museum, perpustakaan umum, surat kabar, majalah, radio, sanggar seni, sanggar olahraga, televisi dapat ditemukan di sekolah. Beberapa pertimbangan dalam pemanfaatan media dan sumber balajar tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Apakah media dan sumber belajar tersebut bermanfaat untuk mencapai sasaran belajar? Jika ya, maka guru perlu menghubungi pemilik media dan sumber belajar dikampus sekolah.
2.      Apakah isi pengetahuan yang ada di surat kabar, majalah, radio, televisi, museum, kantor-kantor dapat dimanfaatkan untuk pokok bahasan tertentu? Jika ya, maka guru perlu menugasi siswa untuk mempelajari isi pengetahuan tersebut. Sebagi ilustrasi, guru dapat memanfaatkan isi siaran pengajaran bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Inggris pada acara siaran televisi tiap minggu.
3.      Apakah isi pengetahuan di kebun bibit, kebun binatang, perpustakaan umum ada yang bermanfaat bagi pokok bahasan tertentu? Jika ya, maka guru dapat memprogram pembelajaran di tempat tersebut. Dalam hal ini guru dapat melakukan karya wisata terprogram.
Secara singkat dapat dikemukakan bahwa guru dapat membuat program pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar di luar sekolah. Pemanfaatan tersebut bermaksud meningkatkan kegiatan belajar, sehingga mutu hasil belajar semakin meningkat (Woolkfolk dan Nicolich).





18
d.      Guru Sebagai Subjek Pembelajar
Guru adalah subjek pembelajar siswa. Sebagai subjek pembelajaran guru berhubungan langsung dengan siswa. Guru dapat menggolong-golongkan motivasi belajar siswa tersebut. Kemudian guru melakukan penguatan-penguatan pada motivasi instrumental, motivasi sosial, motivasi berprestasi, dan motivasi intrinsik siswa.
Guru memiliki peranan penting dalam acara pembelajaran.  Diantara peranan guru tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Membuat desain pembelajaran secara tertulis, lengkap, dan menyeluruh .
2.      Meningkatkan diri untuk menjadi seorang guru yang berkepribadian utuh.
3.      Bertindak sebagai guru yang mendidik.
4.      Meningkatkan profesionalitas keguruan.
5.      Melakukan pembelajaran sesuai dengan berbagai model pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi siswa, bahan belajar, dan kondisi sekolah setempat. Penyesuaian tersebut dilakukan untuk meningkatkan mutu belajar.
6.      Dalam berhadapan dengan siswa, guru berperan sebagai fasilitas belajar, pembimbing belajar, dan memberi balikan belajar. Dengan adanya peran-peran tersebut, maka sebagai pembelajar sepanjang hayat.









19
BAB III
PENUTUP

  1. Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan :
1.      Dengan memahami berbagai teori dan dinamika belajar, maka pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan output-output yang berkualitas dan mampu membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
2.      Teori dan dinamika belajar tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling terkait. Teori belajar dapat dijalankan jika dinamika belajar mendukung proses belajarnya. Sebaliknya, dinamika belajar dapat terjadi karena adanya penerapan dari teori belajar.
3.      Penerapan teori dan dinamika belajar sekarang sangatlah beragam. Guru dapat menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Teori yang dilakukan guru dan siswa hendaknya menarik, merangsang siswa untuk berpikir dan guru dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna.

  1. Saran
Saran yang dapat diberikan dalam makalah ini adalah :
1.      Agar makalah ini dapat dijadikan bahan belajar untuk kita semua, guna untuk menambah pengetahuan kita mengenai teori dan dinamika belajar, sehingga kelak kita dapat menjadi seorang guru yang profesional.
2.      Teori dan dinamika belajar hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar dapat dicapai.



20
DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri C. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Darsono, Max. 2001. Belajar dan Pembelajaran. Semarang : IKIP Semarang Press.

Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Nana Sudjana. 1991. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta : FE UI.

Salim, Agus dkk. 2004. Indonesia Belajarlah. Semarang : Gerbang Madani Indonesia.

Slameto. 1988. Belajar. Jakarta : Bina Aksara.










21

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar